0

Dokumentasi PMII Kab. Grobogan

Pelantikan PC PMII Kab. Grobogan Masa Kitmad 2013-2014. PMII Kab. Grobogan

Dokumentasi PMII Kab. Grobogan

Aksi Turun Jalan Menuntut Penuntasan Kasus-Kasus Korupsi Di Kabupaten Grobogan. PMII Kab. Grobogan.

Dokumentasi PMII Kab. Grobogan

Aksi Sosial Peduli Anak Yatim

Dokumentasi PMII Kab. Grobogan

Pelantikan Pengurus Cabang PMII Grobogan Masa Kitmad 2015-2016

Dokumentasi PMII Kab. Grobogan

Bakti Sosial Memperingati Tahun Baru Islam 1437 H

Sabtu, 04 Oktober 2014

Refleksi Kaderisasi PMII menuju Pergerakan Indonesia Jaya


Kaderisasi adalah hal terpenting dalam organisasi khususnya bagi organisasi yang mewadahi mahasiswa. Kaderisasi juga merupakam strategi gerakan organisasi untuk menciptakan sesosok manusia yang mempunyai daya intelekual yang bisa menjawab tantangan zaman. Mahasiswa sebagai kaum terdidik harus mempunyai kepekaan serta bisa menganalisis permasalahan-permasalahan sosial dan mampu member solusi terhadap segala problematika sosial. Lebih lanjut mahasiswa dengan antribut yang melekat pada dirinya sebagai agent of sosial change, sosial control. PMII sebagai organisasi kaderisasi yang terbesar di Indonesia dan sampai saat ini masih eksis di lingkungan kampus serta mewarnai kehidupan bangsa dan Negara Indonesia harus selalu update dalam mengkader anggotanya. System kaderisasi tidak harus mengekor pada system-sistem yang telah dirancang sebelumnya, akan tetapi butuh pengembangan yang universal sesuai dengan perubahan social. 

Sering timbul pertanyaan, ketidakpuasan sekaligus kebingungan mengenai kaderisasi. Semuanya campur aduk dalam ruang fikir kita, antara pertanyaan mendasar dengan pertanyaan teknis. Pertanyaan Apa tujuan kaderisasi kita? Untuk apa kaderisasi? bagaimana metodenya? Apa isi materinya? Apa sajakah buku-buku referensinya? Bagaimana distribusi kader nanti? Siapa instruktur dan pematerinya? 

Semua itu pertanyaan yang patut untuk diajukan. Soalnya adalah bahwa menata pertanyaan sesuai dengan proporsinya masing-masing, jarang terjadi. Lalu mengurutkan, memahami kembali dan mengakumulasikan jawaban-jawaban sebagaimana telah diberikan dari Kongres ke Kongres, juga jarang dilakukan. 

Saat itu, tujuan PMII dan tujuan kaderisasi seolah-olah telah terumuskan dalam bentuk final, konkrit dan mewujud secara material: membela rakyat tertindas. Di tengah situasi zaman itu, struktur permukaan dari kenyataan yang dihadapi mahasiswa memang mudah menciptakan situasi psikologis yang sarat dengan heroisme. 

Sementara zaman berubah dengan cepat, kampanye demokrasi dan slogan reformasi melahirkan desentralisasi, ruang kompetisipun terbuka sangat lebar. Gerakan ekstraparlementer tidak lagi menjadi domain utama gerakan mahasiswa. Kita bertemu dengan organisasi ‘kanan’ yang secara ‘tiba-tiba’ mendominasi ruang opini gerakan mahasiswa. Bersamaan dengan itu kita menemukan bahwa ‘rival’ lama kita ternyata masih tetap bertahan dan masih eksis. Pada saat itu, kita merasa kehilangan sifat ‘kanan’ kita: kita kurang Islami, kurang menghargai simbol dan seterusnya.

Maka kita harus mengingat kembali tujuan dasar kaderisasi PMII, atau untuk apakah kaderisasi PMII dilakukan? Melihat kembali dan merekonstruksi tujuan ini penting, mengingat telah demikian banyak input intelektual dan pengalaman gerakan yang dipunyai PMII. Begitu banyaknya sehingga tujuan kaderisasi kita sering tak terbaca dan teringat, tergantikan dengan ‘bahasa-bahasa’  lain.

Pada hakikatnya sebutan KADER adalah ditujukan bagi individu yang telah memenuhi kualitas-kualitas tertentu. Seperti apakah mereka? Jawabannya dapat kita simak dalam Tujuan PMII. Tujuan PMII menegaskan bahwa PMII didirikan untuk membentuk sebuah pribadi yang dengan segala kapasitas pribadinya yang terasah, kemudian mengarahkan semua kualitas pribadinya bagi kepentingan masyarakatdan bangsa.

Kaderisasi PMII pada hakekatnya adalah totalitas upaya-upaya yang dilakukan secara sistematis dan berkelanjutan untuk membina dan mengembangkan potensi dzikir, fikir dan amal soleh setiap insan pergerakan. Secara kategoris dapat dipilih dalam tiga bentuk yakni : Perkaderan Formal, Perkaderan Nom Formal (Pengembangan) dan Perkaderan InformalKetiga bentuk ini harus diikuti oleh segenap warga pergerakan, sehingga pada saatnya kelak akan terwujud kader yang berkualitas ulul albab.
1.    Perkaderan formal
meliputi tiga tahapan dengan masing-masing follow-up-nya. Ketiganya itu adalah Masa Penerimaan Anggota Baru (Mapaba), Pelatihan Kader Dasar (PKD), dan Pelatihan Kader Lanjutan (PKL). Ketiga tahapan dengan follw-up yang menyertai itu merupakan satu kesatuan tak terpisahkan, karena kaderisasi PMII pada hakekatnya merupakan proses terus menerus, baik di dalam maupun di luar forum kaderisasi.
2.    Perkaderan Non Formal
adalah berbagai pelatihan dan pendidikan yang ada di PMII. Perkaderan jenis ini dibedakan dalam dua macam, yakni 1) yang wajib diikuti oleh segenap kader secara mutlak, dan 2) yang wajib di ikuti sebagai pilihan. Yang sifatnya wajib mutlak, disamping sebagai pembekalan mengenai hal-hal dasar yang harus dimiliki kader pergerakan, juga merupakan prasyarat bagi keikutsertaan kader bersangkutan dalam PKD atau  PKL.
3.    perkaderan informal
adalah keterlibatan kader pergerakan dalam berbagai aktifitas dan peran kemasyarakatan PMII. Baik dalam posisi sebagai penanggung jawab, menjadi bagian dari team work, atau bahkan sekedar partisipan. Perkaderan jenis ini sangat penting dan mutlak diikuti. Disamping sebagai tolak ukur komitmen dan militansi kader pergerakan, juga jauh lebih real disbanding pelatihan-pelatihan formal lain, karena langsung bersinggungan dengan realitas kehidupan.

Sebagai organisasi kader, diusianya yang lebih dari setengah abad ini, PMII tentunya telah melahirkan ratusan ribu kader dari 220 cabang yang tersebar di pelosok negeri ini. Diantara mereka ada yang telah menjadi akademisi, politisi, aktivis LSM/NGO, PNS dan bahkan ada yang menjadi rakyat biasa. Pertanyaannya kemudian, apa yang telah mereka (kader PMII) berikan kepada bangsa ini?

Tentunya pertanyaan ini cukup beralasan, mengingat AD/ART PMII dengan jelas mencantumkan tujuan kaderisasinya untuk komitmen melanjutkan cita-cita perjuangan kemerdekaan Indonesia. Orientasi kaderisasi tersebut mengisyaratkan pentingnya semangat pengabdian kebangsaan untuk tetap hidup dalam hati sanubari setiap kader. 

Apalagi ditengah pentas kehidupan yang mengglobal saat ini, dimana nilai-nilai kebangsaan kita semakin tergerus dan bahkan tergadai oleh berbagai macam kepentingan. Belum lagi massifnya gerakan Islam transnasional yang mencoba merongrong Pancasila sebagai Ideologi Negara. 
Oleh karenanya, menjadi kewajiban bagi setiap kader PMII untuk mempertahankan ideologi Negara tersebut, serta meminimalisir penyebaran paham Islam transnasional. Sebab paham ini cukup berbahaya karena bisa mengancam kelangsungan keutuhan NKRI.. Begitupun dengan gerakan liberalisasi ekonomi (neoliberalisme) yang sifatnya membius yang dimotori oleh agen-agen global, seperti WTO, IMF dan Bank Dunia yang mengeksploitasi habis-habisan kekayaan alam dan sumber daya manusia bangsa ini yang mengakibatkan dampak buruk bagi kelangsungan hidup generasi bangsa kita dimasa yang akan datang. PMII sebagai organisasi ke-Islaman yang sistem kaderisasinya mengarah pada tiga hal, yaitu; ke-Islaman, kebangsaan dan kemahasiswaan menjadi penting untuk diaktualisasikan. Sebab keutuhan bangsa ini hanya bisa lahir dari pola pemahaman dan gerakan agama yang moderat dan sejuk serta mampu mengakomodasi semua kalangan.
 
 
 
By : Taufiq Yusuf 

Minggu, 07 September 2014

Seminar Kewirausahaan 2014 | PMII Grobogan



Grobogan 02 September 2014. Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Cabang Grobogan menyelenggarakan sebuah seminar yang bertemakan " Membangun Perekonomian Mandiri Berbasis Koperasi " bertempat di Ruang Asisten II Gedung SETDA Kabupaten Grobogan Pukul 14.00 WIB - 17-00WIB yang di Hadiri oleh Mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Islam Grobogan ( STAIG ) dan Mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Islam Welisembilan ( SETIA WS ), Narasumber dari Dinas Koperasi Kab. Grobogan, BMT BUS KAb. Grobogan dan BMT Nahdlorul Ulama' Sejahtera Kab. Demak.

Dari beberapa narasumber memaparkan sebuah konsep perekonomian mandiri yang di akomodir oleh lembaga akan sangat efektif demi kemajuan perekonomian yang di bangun, tidak mengenal perekonomian yang dibangun oleh kaum-kaum mapan, akan tetapi kaum-kaum yang baru merintis seperti kaum muda bisa dibantu dan diakomodir oleh Lembaga Perekoomian seperti Koperasi.


" Kaum muda harus mulai merancang kerangka perekonomian yang berbasis kekreatifitasan demi mengembangkan sumber daya manusia yang mumpuni yang sejalan dengan tuntunan jaman " kata Ketua Panitia Seminar Sahabat Intan Yuli R. Senada dengan itu, Menurut Ketua PMII Kab. Grobogan Sahabat Maimun Rhosid " ASEAN Free Traed Area ( AFTA )) merupakan wujud kesepakatan dari Negara-negara ASEAN untuk membentuk suatu kawasan bebas perdagangan dalam rangka meningkatkan daya saing ekonomi kawasan Regional ASEAN dengan menjadikan ASEAN sebagai basis produksi dunia serta menciptakan pasar regional, melalui kemandirian ekonomi bangsa ini kita bisa bersaing dalam kancah ekonomi global terutama generasi muda yang kreatif serta sumber daya alam yang mumpuni ".

Warta PMII Grobogan

Pelantikan Anggota DPRD Kab. Grobogan Masa Bakti 2014 - 2019


Grobogan, kamis 14 Agustus 2014. Anggota DPRD Kabupaten Grobogan Periode 2014 - 2015 akan dilantik. sebanyak 50 Anggota Dewan bersumpah mengabdi selama lima tahun kedepan untuk menjalankan amanah masyarakat. anggaran yang dialokasikan oleh Pemerintah Kabupaten Grobogan untuk acara pelantikan Anggota DPRD tersebut diambi; dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah ( APBD ) Tahun Anggaran 2014.

Dana sebesar Rp 494 juta tersebut  dengan rincaian sebagai berikut : Rp 68 juta untuk Belanja Pegawai, Rp 227 juta untuk Belanja Perlengkapan, Rp 79 juta Belanja Makan dan Minum Serta Rp 119 juta untuk Belanja Pakaian Dinas dan Atributnya.
            Efektif dan efisien adalah salah satu azaz dalam penganggaran yang akan menetukan konsep kepemerintahan yang peruntukan proses pembangunan kesejahteraan masyarakat, bukan bertumpu pada kegiatan seremonial semata.
Menurut Ketua Umum Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia ( PMII ) Grobogan Maimun Rosyid Mengatakan. “ Kami Semua ( Masyarakat Kabupaten Grobogan )  menunggu perubahan yang dilaksanakan dari para pemimpin rakyat ini, yang akan membawa kesejahteraan untuk masyarakat Kabupaten Grobogan. Dan kami juga akan ikut dalam mengawasi kepemerintahan lima tahun kedepan”
Anggaran sebesar itu seharus dapat digunakan untuk membangun sarana dan prasarana Publik demi kepentingan masyarakat, karena hal itu lebih penting dan vital dari sekedar pelantikan Anggota DPRD.

Oleh sebab itu kami dari PMII Grobogan sangat tidak setuju jika Pelantikan Anggota Dewan menghabiskan            uang rakyat yang sangat besar, dan kami mengajak masyarakat luas untuk ada peran serta untuk mengamankan pemakaian APBD demi kemajuan yang lebih baik bagi Kabupaten Grobogan.



Filosofi Anggaran Adalah Oleh Dari dan Untuk Rakyat

Warta : PMII Grobogan

Senin, 19 Mei 2014

Profil FORSADA PMII Cabang Grobogan




FORSADA PMII ( Forum Study Anggaran Daerah Pergerakan Mahasiawa Islam Indonesia ) adalah  yang Badan bergerak dalam bidang kontrol sosial untuk transparansi proses-proses penganggaran Daerah. Badan Semi Otonom dalam stuktur organisasi PMII, non profit ( nirlaba ), dalam melaksanakan gerakannya bersifat independent.
Visi

Mewujudkan Anggaran Dari Raktat Oleh Rakyat Untuk Rakyat  
Misi
  1. Terlaksananya transparansi dalam perencanaan, pelaksanaan dan kontrol Anggaran Daerah.
  2. Terciptanya mekanisme pelaksaaan anggaran ber-Prinsip Good Governance
  3. Terwujudnya anggaran daerah yang berbasis dan berorientasi pada kebutuhan rakyat.
Latar Belakang
Kabupaten Grobogan, adalah salah satu kabupaten di Provinsi Jawa Tengah. Merupakan kabupaten terluas ke dua setelah cilacap hal ini Berdasarkan hasil Evaluasi Penggunaan Tanah (EPT) tahun 1983 Kabupaten Grobogan mempunyai luas 1.975,86 Km. Secara geografis, wilayah Kabupaten Grobogan terletak di antara 110o15’ BT – 111o25’ BT dan 7LS - 7o30’ LS  dengan kondisi tanah berupa daerah pegunungan kapur, perbukitan dan dataran di bagian tengahnya. Dalam proses penyelenggaraan pemerintahan Anggaran adalah kunci utama untuk melihat sejauh mana keseriusan Pemerintah  dalam  merealisasikan janji politiknya Selama  masa kampanye.  Sesuai dengan visi Bupati ( 2011-2016 )“ Terterwujud Nya Kabupaten Grobogan Sebagai Daerah  Industri Dan Perdagangan Yang Berbasis Pertanian Untuk Mencapai Masyarakat Yang Sehat, Cerdas Dan Lebih Sejahtera “. Namun hal itu belum sepenuh nya dapat terlaksana dalam pencapaian hasil, beberapa kasus korupsi yang melibatkan wakil rakyat yang tidak menjalankan TUPOKSI nya sebagai kecurangan dalam melaksanakan tugas. Karena itu kami sebagai mahasiswa yang tergabung dalam Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia ( PMII ) ingin menjadi patner kritis  pemerintah  guna  ikut berperan dalam terciptanya pembangunan kabupaten Grobogan berbasis kebutuhan rakyat.

Halaqoh PMII Grobogan bersama Jaringan Gus Durian


Grobogan- Minggu 18 Mei 2014, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia ( PMII ) Cabang Grobogan mengadakan Halaqoh bersama Jaringan Gus Durian di Dusun Pedak Karang Anyar Menduran Brati tepatnya di Rumah sahabati Binty Khoiriyah.
Dalam pembahasan diskusi tersebut mencoba membedah pola pemikiran, gagasan serta subtansi perjuangan Gusdur. Forum itu juga memperkenalkan tentang Gus Durian yaitu sebutan untuk para murid, pengagum, penerus, pemikir dan perjuangan Gus Dur. Sedang JARINGAN GUS DURIAN  adalah arena sinergi bagi para Gus Durian di ruang kultural dan non politik praktis.
Menurut Jay Ahmad selaku Seknas Gus Durian mengatakan” Jaringan Gus Durian memfokuskan sinergi kerja non politik praktis pada Dimensi-dimensi yang telah ditekuni Gusdur,Meliputi Empat dimensi besar  : Islam, Keimanan, Kultural, Negara dan Kemanusiaan.” Dilandasi sembilan Nilai Gus Dur yakni : ketauhidan, Kemanusiaan, Keadilan , Kesetaraan, Pembebasan, Persaudaraan, kesederhanaan,Sikap Ksatria dan Kearifan Tradisi menjadi subtansi nilai-nilai perjuangan Gus Dur.
Menambahkan Badiul Hadi selaku koordinator Jaringan Gus Durian Grobogan, “ apa yang telah menjadi program kerja Jaringan Gus Durian Grobogan juga menitikberat kan pada Nilai-nilai ubudiyah Ahli Sunnah Wal Jama’ah Nahdlatul Ulama yang saat ini mulai terkikis, serta mulai terserang oleh aliran-aliran kepercayaan lain.”
Lalu ditutup oleh Ketua Umum PMII kab. Grobogan Maimun Rosyid “ bahwa tokoh Gus Dur Merupakan Bapak Founding Father dalam perjuangan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia, terutama berkenaan pola pikir Gus Dur tentang Pluralisme, islam ala indonesia yang menjadi penyatuan keaneragaman budaya serta agama di Indonesia.