![]() |
| ( Sahabat Maimun Rosyid ) |
Alhamdulillaahirobbil
alamin wassholatu wassalamu ala sayyidil anbiyaiwalmursalin, wa ala alihi washohbihi
ajma’in. Rodlitubillaahirobba wabil islamidiina wabimmuhammadin nabiyyauwarosuula wabil
qur’aaniimama. Salam
sejahtera kami sampaikan semoga rahmat, taufiq serta hidayahnya selalu menyertai
langkah dan aktivitas kita. Sahabat – sahabat seperjuangan yang kami banggakan
dalam rangka menyusun agenda kaderisasi yang
perlu kita persiiapkan yang pertama, basis intelektual kader yang mumpuni dalam
rangka survive jangka panjang, Pertama, tersedianya SDM yang berkualitas. Dalam perspektif sosiologis gambaran warga PMII bisa dilihat
dari dua hal. Warga PMII yang secara tradisi, kultur dan ritualnya kental dengan nilai-nilai yang dikembangkan oleh
Nahdlatul Ulama dan warga PMII yang secara tradisi,
kultur dan ritualnya kurang atau malah sama sekali tidak bersentuhan dengan nilai-nilai
yang dikembangkan oleh
Nahdlatul Ulama. Dalam perspektif pendidikan terbelah dalam dua hal. Warga PMII
yang dari pendidikan dasar sampai perguruan
tinggi berada di dalam lingkungan sekolah agama atau pesantren, dan warga PMII
yang dari pendidikan dasar sampai perguruan tinggi
berada di dalam sekolah umum. Kekuatan disiplin ilmu akademis warga PMII yang dominan adalah disiplin ilmu-ilmu sosial. Sedangkan disiplin
ilmu-ilmu eksakta masih sangat kurang. Realitas
terhadap gambaran ini sangat berpengaruh terhadap pembentukan wajah gerakan
PMII dan orientasi pengembangan yang
dilakukan. Dominasi disiplin ilmu-ilmu sosial sangat berpengaruh dalam cara
pandang, titik pijak filosofis dan
teologis, serta pokok-pokok program yang direncanakan. Dalam konteks
pencerminan suatu perubahan yang
diinginkan, apapun yang dihasilkan oleh warga PMII merupakan hasil serius dari
upaya memberikan suatu tatanan dalam
keorganisasian yang lebih baik. Adanya ruang yang begitu luas untuk melakukan
aktualisasi diri telah menghasilkan suatu komunitas
yang kritis, apresiatif dan dinamis, baik dalam melakukan eksplorasi pemikiran maupun dalam parktis gerakan yang
dilakukan Gambaran
akan realitas yang berkembang ini tumbuh dari adanya sumber motivasi kekuatan
kultur, tradisi, disiplin pendidikan,
yang dikombinasikan dengan kekuatan-kekuatan baru yang digali dari pemaknaan
ulang atas teori, nilai, bangunan cultur dan
tradisi, serta kekuatan filosofis dan teologis didukung dengan sumber teori dan
nilai
baru yang sedang berkembang. Pemangkasan ikatan
cultural dan struktural yang dianggap tidak berkesuaian dengan kekinian telah menumbuhkan banyak perubahan dan pembaharuan
Kedua
menyiiapkan management organisasi untuk membangun struktur yang kuat sehingga
dapat memobilisasi agenda kaderisasi yang jelas dan ditopang dengan pemahaman tentang skema nilai perjuangan keislaman PMII
yang berasaskan pancasila, Tetapi struktur tidak akan ada artinya kalau tidak dibangun suatu sistem yang baik. Struktur dan sistem adalah dua
nama yang sama pengertiannya atau sama barangnya. Struktur adalah sistem dalam keadaan diam, sedangkan
sistem adalah struktur yang bekerja. Organisasi tidak akan bisa berjalan tanpa adanya struktur. Struktur
tidak akan bekerja dengan baik kalau tidak tersistem
dalam mekanisme yang dinamis. Dalam hal ini apabila suatu organisasi
(institusi) berkeinginan untuk mensosialisasikan
ide-idenya, maka kebutuhan akan struktur/institusi yang kuat sangat dibutuhkan.
Menafikan keberadaan struktur sama artinya
dengan membuyarkan nilai-nilai yang dimilikinya tersosialisasikan kepada sasaran yang diharapkan.
Ketiga,
Strategi dan taktik. Strategi dan taktik harus dimiliki oleh suatu organisasi
agar sosialisasi bisa merembes kepada
sasaran yang diharapkan. Strategi adalah cara
yang harus dilakukan untuk memobilisasi kekuatan (forces mobilization). Forces
mobilization hanya akan bisa dilakukan kalau focus (memfokus). Fokus akan
digunakan untuk core competence. Core
competence digunakan untuk menjadi pemenang (winner). Strategi lebih menyangkut cara yang lebih konsepsional (atau dengan kata lain cara
umum). Sedangkan taktik lebih menyangkut
praktik lapangan.
Dari
ketiga masalah tersebut di atas, harus juga diperhatikan tiga aspek penting
yakni; pertama, lingkungan (environment),
Desain produk-produk yang kita miliki sebenarnya telah benar (pilihan gerakan),
persoalannya adalah bagaimana kita
mengantisipasi suatu kebutuhan lingkungan. Kedua, mission. Mission menyangkut masalah-masalah
yang akan kita sampaikan. Ketiga, competition. Kompetisi. Adalah bagaimana kita
bisa bersaing dengan
kekuataan-kekuatan lain untuk mempertaruhkan produk-produk yang kita miliki.
Apabila dalam persaingan tersebut
kita mendapatkan respons yang baik, maka kita akan menjadi pemenang. Tiga hal
yang tersebut di atas akan
terkait dengan proses sosialisasi yang kita lakukan. Permasalahannya, apakah
sosialisasi itu sudah sesuai dengan
kenyataan?, sesuai satu sama lain? dipahami dalam suatu organisasi? ataupun
bisa diuji secara terus-menerus?.
Kebutuhan-kebutuhan
untuk mendapatkan suatu makna yang sangat berarti dalam berorganisasi adalah bagaimana bisa mensosialisasikan segala bentuk produk-produk kita ke
dalam masyarakat, sekaligus bagaimana institution
mendapatkan penghargaan sebagai agent of social change serta bagimana warga
(anggota) mendapatkan inspirasi
dari organisasi dan organisasi bisa memberikan manfaat kepada dirinya.
Semuanya
itu membutuhkan rekayasa untuk mencapainya. Pencapaian itu hanya bisa dilakukan
apabila ruler of life
terbangun dengan baik menyangkut visi, misi, orientasi, kualitas SDM,
keberadaan struktur dan sistemnya, serta
dukungan strategi dan taktik yang baik. Kekuatan-kekuatan yang harus dimiliki
ini dimaksudkan untuk mendorong
eksistensi nilai-nilai yang dicita-citakan agar tidak hanya berada dalam
kerangka abstrak (melangit) tetapi
juga bisa dibumikan dengan implementasi praktis yang mendukung pemberdayaan
warga PMII khususnya dan
masyarakat pada umumnya. Dengan melihat perspektif ini upaya perubahan yang
dipercepat (intended planned)
bisa dipertanggung jawabkan secara ilmiah.
Fokus
Kebijakan Pengembangan Organisasi, Ada tiga dasar dalam membangun gerakan yang
terorganisir adalah meliputi; kekuatan pasar yang bisa melayani kebutuhan
konsumen (warga), adanya media yang bisa digunakan untuk menampung semua
aktifitas dan sebagai media sosialisasi pada konsumen (warga) dan
potesi sumber daya alam yang bisa untuk dijadikan infrastruktur
yang memadai. Dari
ketiga unsur tersebut harus diberlakukan kemungkinan instrumen kebijakan untuk mengatasi masalah tersebut di atas oleh factor ekternal (kebjakan
politik makro). Kenyataannya, kebijakan yang menyangkut tiga
sendi dasar ini di PMII sifatnya sangat bias. Misalkan; Tidak ada agenda yang terencana dari aktifitas yang dilakukan (dari tingkat
Rayon sampai Pengurus Besar), tidak bisa dinilai sejauhmana PMII telah mampu memberikan penguatan kepada warga
(wacana, praksis gerakan dan, solusi
pemberdayaan warga), tidak berfungsinya sandaran sistem nilai (rule of law)
sebagai sandaran berorganisasi (AD
ART, NDP, PO-PO, dan lainnya), mekanisme administrasi yang kacau, desentralisasi
pada tingkat pengurus cabang
(cendem) yang mengakibatkan ketidak jelas aturan-aturannya, strategi gerakan
yang mengambang, serta tidak
ada kesesuaian pola gerakan, strategi dan pilihan gerakan. Kondisi-kondisi ini akan menempatkan organisasi dalam situasi
mengambang, tidak jelas, dan tidak berprospek serta tidak mempunyai daya tahan diri menghadapi masalah-masalah dari
dalam organisasi sendiri dan dari luar organisasi. Bias dari kebijakan yang mengambang akan menjadi penghambat
upaya memberdayakan warga dan menghilangkan daya kompetisi di hadapan publik







0 komentar:
Posting Komentar