0

Sabtu, 21 Desember 2013

Sambutan Ketua Umum Pc PMII Kab. Grobogan Periode 2013-2014 ( Sahabat Maimun Rosyid )



 ( Sahabat Maimun Rosyid )
Alhamdulillaahirobbil alamin wassholatu wassalamu ala sayyidil anbiyaiwalmursalin, wa ala alihi washohbihi ajmain. Rodlitubillaahirobba wabil islamidiina wabimmuhammadin nabiyyauwarosuula wabil qur’aaniimama. Salam sejahtera kami sampaikan semoga rahmat, taufiq serta hidayahnya selalu menyertai langkah dan aktivitas kita. Sahabat – sahabat seperjuangan yang kami banggakan dalam rangka  menyusun agenda kaderisasi yang perlu kita persiiapkan yang pertama, basis intelektual kader yang mumpuni dalam rangka survive jangka panjang, Pertama, tersedianya SDM yang berkualitas. Dalam perspektif sosiologis gambaran warga PMII bisa dilihat dari dua hal. Warga PMII yang secara tradisi, kultur dan ritualnya kental dengan nilai-nilai yang dikembangkan oleh Nahdlatul Ulama dan warga PMII yang secara ‎tradisi, kultur dan ritualnya kurang atau malah sama sekali tidak bersentuhan dengan nilai-nilai yang dikembangkan oleh Nahdlatul Ulama. Dalam perspektif pendidikan terbelah dalam dua hal. Warga PMII yang ‎dari pendidikan dasar sampai perguruan tinggi berada di dalam lingkungan sekolah agama atau pesantren, dan ‎warga PMII yang dari pendidikan dasar sampai perguruan tinggi berada di dalam sekolah umum. Kekuatan disiplin ilmu akademis warga PMII yang dominan adalah disiplin  ilmu-ilmu sosial. Sedangkan disiplin ilmu-ilmu ‎eksakta masih sangat kurang. Realitas terhadap gambaran ini sangat berpengaruh terhadap pembentukan wajah gerakan PMII dan orientasi pengembangan yang dilakukan. Dominasi disiplin ilmu-ilmu sosial sangat berpengaruh dalam cara pandang, titik ‎pijak filosofis dan teologis, serta pokok-pokok program yang direncanakan. Dalam konteks pencerminan suatu perubahan yang diinginkan, apapun yang dihasilkan oleh warga PMII merupakan hasil serius dari upaya ‎memberikan suatu tatanan dalam keorganisasian yang lebih baik. Adanya ruang yang begitu luas untuk ‎melakukan aktualisasi diri telah menghasilkan suatu komunitas yang kritis, apresiatif dan dinamis, baik dalam melakukan eksplorasi pemikiran maupun dalam parktis gerakan yang dilakukan Gambaran akan realitas yang berkembang ini tumbuh dari adanya sumber motivasi kekuatan kultur, tradisi, disiplin pendidikan, yang dikombinasikan dengan kekuatan-kekuatan baru yang digali dari pemaknaan ulang atas ‎teori, nilai, bangunan cultur dan tradisi, serta kekuatan filosofis dan teologis didukung dengan sumber teori dan ‎nilai baru yang sedang berkembang. Pemangkasan ikatan cultural dan struktural yang dianggap tidak berkesuaian dengan kekinian telah menumbuhkan banyak perubahan dan pembaharuan
Kedua menyiiapkan management organisasi untuk membangun struktur yang kuat sehingga dapat memobilisasi agenda kaderisasi yang jelas dan ditopang dengan pemahaman  tentang skema nilai perjuangan keislaman PMII yang berasaskan pancasila, Tetapi struktur tidak akan ada artinya kalau tidak dibangun suatu sistem yang baik. Struktur dan sistem adalah dua nama yang sama pengertiannya atau sama barangnya. Struktur adalah sistem dalam keadaan diam, sedangkan sistem adalah struktur yang bekerja. Organisasi tidak akan bisa berjalan tanpa adanya struktur. Struktur tidak akan bekerja dengan baik kalau tidak ‎tersistem dalam mekanisme yang dinamis. Dalam hal ini apabila suatu organisasi (institusi) berkeinginan untuk mensosialisasikan ide-idenya, maka kebutuhan akan struktur/institusi yang kuat sangat dibutuhkan. Menafikan ‎keberadaan struktur sama artinya dengan membuyarkan nilai-nilai yang dimilikinya tersosialisasikan kepada sasaran yang diharapkan.
Ketiga, Strategi dan taktik. Strategi dan taktik harus dimiliki oleh suatu organisasi agar sosialisasi bisa merembes kepada sasaran yang diharapkan. Strategi adalah cara yang harus dilakukan untuk memobilisasi kekuatan (forces mobilization).  Forces mobilization hanya akan bisa dilakukan kalau focus (memfokus). Fokus akan digunakan ‎untuk core competence. Core competence digunakan untuk menjadi pemenang (winner). Strategi lebih menyangkut cara yang lebih konsepsional (atau dengan kata lain cara umum). Sedangkan taktik lebih ‎menyangkut praktik lapangan.
Dari ketiga masalah tersebut di atas, harus juga diperhatikan tiga aspek penting yakni; pertama, lingkungan ‎‎(environment), Desain produk-produk yang kita miliki sebenarnya telah benar (pilihan gerakan), persoalannya adalah bagaimana kita mengantisipasi suatu kebutuhan lingkungan. Kedua, mission. Mission menyangkut ‎masalah-masalah yang akan kita sampaikan. Ketiga, competition. Kompetisi. Adalah bagaimana kita bisa bersaing dengan kekuataan-kekuatan lain untuk mempertaruhkan produk-produk yang kita miliki. Apabila dalam ‎persaingan tersebut kita mendapatkan respons yang baik, maka kita akan menjadi pemenang. Tiga hal yang tersebut di atas akan terkait dengan proses sosialisasi yang kita lakukan. Permasalahannya, apakah sosialisasi itu ‎sudah sesuai dengan kenyataan?, sesuai satu sama lain? dipahami dalam suatu organisasi? ataupun bisa diuji ‎secara terus-menerus?.‎
Kebutuhan-kebutuhan untuk mendapatkan suatu makna yang sangat berarti dalam berorganisasi adalah bagaimana bisa mensosialisasikan segala bentuk produk-produk kita ke dalam masyarakat, sekaligus bagaimana ‎institution mendapatkan penghargaan sebagai agent of social change serta bagimana warga (anggota) mendapatkan inspirasi dari organisasi dan organisasi bisa memberikan manfaat kepada dirinya.
Semuanya itu membutuhkan rekayasa untuk mencapainya. Pencapaian itu hanya bisa dilakukan apabila ruler of life terbangun dengan baik menyangkut visi, misi, orientasi, kualitas SDM, keberadaan struktur dan sistemnya, serta dukungan strategi dan taktik yang baik. Kekuatan-kekuatan yang harus dimiliki ini dimaksudkan untuk mendorong eksistensi nilai-nilai yang dicita-citakan agar tidak hanya berada dalam kerangka abstrak (melangit) tetapi juga bisa dibumikan dengan implementasi praktis yang mendukung pemberdayaan warga PMII khususnya dan masyarakat pada umumnya. Dengan melihat perspektif ini upaya perubahan yang dipercepat (intended planned) bisa dipertanggung jawabkan secara ilmiah. 
Fokus Kebijakan Pengembangan Organisasi, Ada tiga dasar dalam membangun gerakan yang terorganisir adalah meliputi; kekuatan pasar yang bisa melayani kebutuhan konsumen (warga), adanya media yang bisa digunakan untuk menampung semua aktifitas dan sebagai media sosialisasi pada konsumen (warga) dan potesi sumber daya alam yang bisa untuk dijadikan infrastruktur yang memadai. Dari ketiga unsur tersebut harus diberlakukan kemungkinan instrumen kebijakan untuk mengatasi masalah tersebut di atas oleh factor ekternal (kebjakan politik makro). Kenyataannya, kebijakan yang menyangkut tiga sendi dasar ini di PMII sifatnya sangat bias. Misalkan; Tidak ada agenda yang terencana dari aktifitas yang dilakukan (dari tingkat Rayon sampai Pengurus Besar), tidak bisa dinilai sejauhmana PMII telah mampu memberikan penguatan kepada warga (wacana, praksis gerakan dan, solusi pemberdayaan warga), tidak berfungsinya sandaran sistem nilai (rule of law) sebagai sandaran berorganisasi ‎‎(AD ART, NDP, PO-PO, dan lainnya), mekanisme administrasi yang kacau, desentralisasi pada tingkat pengurus cabang (cendem) yang mengakibatkan ketidak jelas aturan-aturannya, strategi gerakan yang mengambang, serta tidak ada kesesuaian pola gerakan, strategi dan pilihan gerakan. Kondisi-kondisi ini akan menempatkan organisasi dalam situasi mengambang, tidak jelas, dan tidak berprospek serta tidak mempunyai daya tahan diri menghadapi masalah-masalah dari dalam organisasi sendiri dan dari luar organisasi. Bias dari kebijakan yang mengambang akan menjadi penghambat upaya memberdayakan warga dan menghilangkan daya kompetisi di hadapan publik

0 komentar:

Posting Komentar