0

Dokumentasi PMII Kab. Grobogan

Pelantikan PC PMII Kab. Grobogan Masa Kitmad 2013-2014. PMII Kab. Grobogan

Dokumentasi PMII Kab. Grobogan

Aksi Turun Jalan Menuntut Penuntasan Kasus-Kasus Korupsi Di Kabupaten Grobogan. PMII Kab. Grobogan.

Dokumentasi PMII Kab. Grobogan

Aksi Sosial Peduli Anak Yatim

Dokumentasi PMII Kab. Grobogan

Pelantikan Pengurus Cabang PMII Grobogan Masa Kitmad 2015-2016

Dokumentasi PMII Kab. Grobogan

Bakti Sosial Memperingati Tahun Baru Islam 1437 H

Sabtu, 21 Desember 2013

sertifikat

pergerakan mahasiswa islam indonesia kabupaten groboghanm kita akan mengadaklan mapaaba masa penerimaanb anggaota bagui;,. djhjh du kabupaten grobogan muhammmar ataugik yusuf dan sahabat sahabat pminn jabjvkdcl
jbckk
bn

Sambutan Ketua Umum Pc PMII Kab. Grobogan Periode 2013-2014 ( Sahabat Maimun Rosyid )



 ( Sahabat Maimun Rosyid )
Alhamdulillaahirobbil alamin wassholatu wassalamu ala sayyidil anbiyaiwalmursalin, wa ala alihi washohbihi ajmain. Rodlitubillaahirobba wabil islamidiina wabimmuhammadin nabiyyauwarosuula wabil qur’aaniimama. Salam sejahtera kami sampaikan semoga rahmat, taufiq serta hidayahnya selalu menyertai langkah dan aktivitas kita. Sahabat – sahabat seperjuangan yang kami banggakan dalam rangka  menyusun agenda kaderisasi yang perlu kita persiiapkan yang pertama, basis intelektual kader yang mumpuni dalam rangka survive jangka panjang, Pertama, tersedianya SDM yang berkualitas. Dalam perspektif sosiologis gambaran warga PMII bisa dilihat dari dua hal. Warga PMII yang secara tradisi, kultur dan ritualnya kental dengan nilai-nilai yang dikembangkan oleh Nahdlatul Ulama dan warga PMII yang secara ‎tradisi, kultur dan ritualnya kurang atau malah sama sekali tidak bersentuhan dengan nilai-nilai yang dikembangkan oleh Nahdlatul Ulama. Dalam perspektif pendidikan terbelah dalam dua hal. Warga PMII yang ‎dari pendidikan dasar sampai perguruan tinggi berada di dalam lingkungan sekolah agama atau pesantren, dan ‎warga PMII yang dari pendidikan dasar sampai perguruan tinggi berada di dalam sekolah umum. Kekuatan disiplin ilmu akademis warga PMII yang dominan adalah disiplin  ilmu-ilmu sosial. Sedangkan disiplin ilmu-ilmu ‎eksakta masih sangat kurang. Realitas terhadap gambaran ini sangat berpengaruh terhadap pembentukan wajah gerakan PMII dan orientasi pengembangan yang dilakukan. Dominasi disiplin ilmu-ilmu sosial sangat berpengaruh dalam cara pandang, titik ‎pijak filosofis dan teologis, serta pokok-pokok program yang direncanakan. Dalam konteks pencerminan suatu perubahan yang diinginkan, apapun yang dihasilkan oleh warga PMII merupakan hasil serius dari upaya ‎memberikan suatu tatanan dalam keorganisasian yang lebih baik. Adanya ruang yang begitu luas untuk ‎melakukan aktualisasi diri telah menghasilkan suatu komunitas yang kritis, apresiatif dan dinamis, baik dalam melakukan eksplorasi pemikiran maupun dalam parktis gerakan yang dilakukan Gambaran akan realitas yang berkembang ini tumbuh dari adanya sumber motivasi kekuatan kultur, tradisi, disiplin pendidikan, yang dikombinasikan dengan kekuatan-kekuatan baru yang digali dari pemaknaan ulang atas ‎teori, nilai, bangunan cultur dan tradisi, serta kekuatan filosofis dan teologis didukung dengan sumber teori dan ‎nilai baru yang sedang berkembang. Pemangkasan ikatan cultural dan struktural yang dianggap tidak berkesuaian dengan kekinian telah menumbuhkan banyak perubahan dan pembaharuan
Kedua menyiiapkan management organisasi untuk membangun struktur yang kuat sehingga dapat memobilisasi agenda kaderisasi yang jelas dan ditopang dengan pemahaman  tentang skema nilai perjuangan keislaman PMII yang berasaskan pancasila, Tetapi struktur tidak akan ada artinya kalau tidak dibangun suatu sistem yang baik. Struktur dan sistem adalah dua nama yang sama pengertiannya atau sama barangnya. Struktur adalah sistem dalam keadaan diam, sedangkan sistem adalah struktur yang bekerja. Organisasi tidak akan bisa berjalan tanpa adanya struktur. Struktur tidak akan bekerja dengan baik kalau tidak ‎tersistem dalam mekanisme yang dinamis. Dalam hal ini apabila suatu organisasi (institusi) berkeinginan untuk mensosialisasikan ide-idenya, maka kebutuhan akan struktur/institusi yang kuat sangat dibutuhkan. Menafikan ‎keberadaan struktur sama artinya dengan membuyarkan nilai-nilai yang dimilikinya tersosialisasikan kepada sasaran yang diharapkan.
Ketiga, Strategi dan taktik. Strategi dan taktik harus dimiliki oleh suatu organisasi agar sosialisasi bisa merembes kepada sasaran yang diharapkan. Strategi adalah cara yang harus dilakukan untuk memobilisasi kekuatan (forces mobilization).  Forces mobilization hanya akan bisa dilakukan kalau focus (memfokus). Fokus akan digunakan ‎untuk core competence. Core competence digunakan untuk menjadi pemenang (winner). Strategi lebih menyangkut cara yang lebih konsepsional (atau dengan kata lain cara umum). Sedangkan taktik lebih ‎menyangkut praktik lapangan.
Dari ketiga masalah tersebut di atas, harus juga diperhatikan tiga aspek penting yakni; pertama, lingkungan ‎‎(environment), Desain produk-produk yang kita miliki sebenarnya telah benar (pilihan gerakan), persoalannya adalah bagaimana kita mengantisipasi suatu kebutuhan lingkungan. Kedua, mission. Mission menyangkut ‎masalah-masalah yang akan kita sampaikan. Ketiga, competition. Kompetisi. Adalah bagaimana kita bisa bersaing dengan kekuataan-kekuatan lain untuk mempertaruhkan produk-produk yang kita miliki. Apabila dalam ‎persaingan tersebut kita mendapatkan respons yang baik, maka kita akan menjadi pemenang. Tiga hal yang tersebut di atas akan terkait dengan proses sosialisasi yang kita lakukan. Permasalahannya, apakah sosialisasi itu ‎sudah sesuai dengan kenyataan?, sesuai satu sama lain? dipahami dalam suatu organisasi? ataupun bisa diuji ‎secara terus-menerus?.‎
Kebutuhan-kebutuhan untuk mendapatkan suatu makna yang sangat berarti dalam berorganisasi adalah bagaimana bisa mensosialisasikan segala bentuk produk-produk kita ke dalam masyarakat, sekaligus bagaimana ‎institution mendapatkan penghargaan sebagai agent of social change serta bagimana warga (anggota) mendapatkan inspirasi dari organisasi dan organisasi bisa memberikan manfaat kepada dirinya.
Semuanya itu membutuhkan rekayasa untuk mencapainya. Pencapaian itu hanya bisa dilakukan apabila ruler of life terbangun dengan baik menyangkut visi, misi, orientasi, kualitas SDM, keberadaan struktur dan sistemnya, serta dukungan strategi dan taktik yang baik. Kekuatan-kekuatan yang harus dimiliki ini dimaksudkan untuk mendorong eksistensi nilai-nilai yang dicita-citakan agar tidak hanya berada dalam kerangka abstrak (melangit) tetapi juga bisa dibumikan dengan implementasi praktis yang mendukung pemberdayaan warga PMII khususnya dan masyarakat pada umumnya. Dengan melihat perspektif ini upaya perubahan yang dipercepat (intended planned) bisa dipertanggung jawabkan secara ilmiah. 
Fokus Kebijakan Pengembangan Organisasi, Ada tiga dasar dalam membangun gerakan yang terorganisir adalah meliputi; kekuatan pasar yang bisa melayani kebutuhan konsumen (warga), adanya media yang bisa digunakan untuk menampung semua aktifitas dan sebagai media sosialisasi pada konsumen (warga) dan potesi sumber daya alam yang bisa untuk dijadikan infrastruktur yang memadai. Dari ketiga unsur tersebut harus diberlakukan kemungkinan instrumen kebijakan untuk mengatasi masalah tersebut di atas oleh factor ekternal (kebjakan politik makro). Kenyataannya, kebijakan yang menyangkut tiga sendi dasar ini di PMII sifatnya sangat bias. Misalkan; Tidak ada agenda yang terencana dari aktifitas yang dilakukan (dari tingkat Rayon sampai Pengurus Besar), tidak bisa dinilai sejauhmana PMII telah mampu memberikan penguatan kepada warga (wacana, praksis gerakan dan, solusi pemberdayaan warga), tidak berfungsinya sandaran sistem nilai (rule of law) sebagai sandaran berorganisasi ‎‎(AD ART, NDP, PO-PO, dan lainnya), mekanisme administrasi yang kacau, desentralisasi pada tingkat pengurus cabang (cendem) yang mengakibatkan ketidak jelas aturan-aturannya, strategi gerakan yang mengambang, serta tidak ada kesesuaian pola gerakan, strategi dan pilihan gerakan. Kondisi-kondisi ini akan menempatkan organisasi dalam situasi mengambang, tidak jelas, dan tidak berprospek serta tidak mempunyai daya tahan diri menghadapi masalah-masalah dari dalam organisasi sendiri dan dari luar organisasi. Bias dari kebijakan yang mengambang akan menjadi penghambat upaya memberdayakan warga dan menghilangkan daya kompetisi di hadapan publik

Perjalanan Kaderisasi Pergerakan Mahasiswa Islam Cabang Grobogan


Lahirnya Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Cabang Grobogan bukannya berjalan mulus, banyak sekali hambatan dan rintangan, Grobogan yang tidak memiliki pn tinggi reguler, namun hal tersebut tidak menyurutkan gagasan para kader pergerakan untuk tetap membangun daerahnya. melihat situasi yang ada grobogan di tahun 2000, kondisi kader Nahdlatul Ulama mengalami stagnasi gerakan, dan memang tidak adanya basis komunitas pemuda Nahdlatul Ulama yang melakukan proses kaderisasi di kabupaten grobogan sebagai basis dan menjaga ideologisasi Aswaja. Melihat kondisi itu kader PMII yang memang memiliki kultur yang sama untuk menjaga ideologi aswaja maka potensi ini disikapi dengan cerdas oleh kader PMII yang saat itu mengalami proses menjadi mahasiswa dan berorganisasi di Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia di luar kabupaten Grobogan.
Berawal dari niat dan tekat yang kuat beberapa tokoh pelopor yang menancapkan sejarah lahirnya PMII grobogan sebagai komitmen manifestasi gerakan dan ilmu, Oleh karena itu gagasan legalisasi organisasi senantisa muncul dan mencapai puncaknya pada tahun 2001 sahabat Solikul Hadi yang saat itu masih berproses di PMII rayon syariah IAIN walisongo melakukan turun ke basis ke daerah kelahiranya yaitu grobogan yang memiliki perguruan tinggi walaupun masih bersifat ekstensi atau kelas jauh, berawal dari sharing dengan kader lokal mahasiswa grobogan yang tidak lain adalah ketua umum pertama PMII grobogan yaitu Sahabat Agus darmaji. Konsolidasi terus dilakukan secara continue oleh sahabat agus darmaji yang bergerak di lingkup lokal kemudian juga didorong oleh sahabat Hadi yang juga melakukan konsolidasi di tingkap struktural wilayah serta dengan ijin dari ketua umum PKC PMII Jawa Tengah yang memang sangat mendukung hal tersebut melalui sahabat hendrik wicaksono. Sahabat Solikul Hadi bersama Hendrik Wicaksono dan beberapa orang dari pengurus PKC melakukan sosialisasi dengan mahasiswa lokal grobogan, agus darmaji dan lainya di masjid Jabal Khoir, pertemuan tersebut sangat disambut dengan antusiasme dari mahasiswa, Dari forum ini kemudian kemudian muncul keputusan pembentukan tim kecil untuk melakukan persiapan masa penerimaan anggota baru yang diketuai oleh sahabat agus darmaji. Akhirnya tim segera melakukan sosilalisasi di beberapa kampus, MAPABA dilaksanakan 11-13 Maret 2001 yang berjumlah 25 orang dengan basis mahasiswa  STAIN Surakarta, SETIA Wali Sembilan Semarang dan IKIP PGRI Semarang yang bertempat di aula SMA Miftahul Huda depan masjid kuripan sekaligus menetapkan status cabang PMII grobogan sebagai cabang persiapan serta mengangkat sahabat agus darmaji sebagai ketua umum PC PMII Grobogan. Pada forum MUSPIMNAS yang dilakukan PB PMII yang saat itu Sahabat Nusron wahid ketua umum PB PMII, agenda muspimnas bertempat di gedung diklat provinsi, PMII Cabang Grobogan yang yang direpresentasikan oleh agus darmaji sudah di rekomendasikan untuk jadi peserta peninjau, dalam kondisi itu forum tersebut dikonsolidasikan bersama kang hadi dan kang agus darmaji saat itu bertemu dengan sahabat harnomo PMII kudus, kusdiyanto PMII Jepara yang memang berasal dari pemuda grobogan dan sahabat lainya memang mendorong agar PMII grobogan tetap berjalan mengawal proses kaderisasi.
Bukti Sejarah PMII Grobogan
Perjalanan kepemimpinan PMII Grobogan dilakukan secara massive, pada konfercab Ke-II PMII Cabang Grobogan tahun 2002-2003 sahabat agus riyanto terpilih menjadi ketua umum, pada konfercab III terpilihlah sahabat Solikin, pada konfercab IV terpilih sahabat Ahmad Fauzi, pada Konfercab V terpilih sahabat Ali Fatah Yasin, pada Konfercab VI terpilih sahabat Solikin, pada kondisi kaderisasi belum terbentuk sistem kaderisasi yang ideal dengan indikasi belum adanya sistem kaderisasi pada tingkat Komisariat. pada konfercab VII tanggal 21 juli 2009 terpilih sahabat Asnawi, pada zaman kepemimpinannya digagas pendirian Komisariat Ki Ageng Tarub dengan basis dari kampus Setia Wali Sembilan Semarang Cabang Purwodadi dalam rangka mengejawantahkan internalisasi produk hukum PMII, kemudian tangggal 14 Februari 2010 pada konfercab VIII tanggal 25 Desember 2010 terpilih sahabat Miftahul Babil Yasar. Pada masa kepemimpinannya digagas pendirian komisariat yang berbasis pada kampus STAI Grobogan yang baru didirikan pada tahun tersebut yang kemudian lahir nama Komisariat Ajisaka. Pada Konferensi Cabang Ke-IX tanggal 20 Mei 2012 estafet kepemimpinan dilanjutkan oleh sahabat Suwiknyo dengan konsentrasi gerakan berbasis intelektual kemudian lahirlah Forum Study Anggaran Daerah yang memiliki cita-cita perubahan melalui segmen perencanaan alokasi anggaran. Dan 25 Nopember 2013, periode ke X tampuk kepemimpinan di lanjutkan Oleh sahabat Maimun Rosyid, Pada masa ini pengembangan kajian pengangaran daerah penjadi issu strategis bahwa PMII Grobogan menjadi patner kritis Pemerintah Daerah bahwasanya penerapan filosofi anggaran " Dari Oleh Untuk Rakyat" menjadi spirit dalam pengawalan.
Demikian adalah gambaran perjalanan singkat kaderisasi PMII grobogan, namun kami menyadari bahwa masih banyak kekurangan dalam penulisan sejarah ini sehingga kami akan tetap terbuka pada kritik dan saran yang membangun bagi kami. semoga dapat bermanfaat bagi para kader dalam meneruskan perjuangannya dalam menjalankan roda organisasi tanpa harus melupakan sejarah para pendahulunya dalam lingkup lokal maupun nasional. Amin